Monday, July 11, 2016

#Jakartasepi Taman Mangrove PIK


Guys, #Jakartasepi kali ini tentang Taman Wisata Alam Pantai Indah Kapuk alias Taman Mangrove PIK. Sebenernya tempat ini udah cukup lama ada di Jakarta namun baru ngetrennya 1-2 tahun ini karena banyak orang yg foto-foto pre-wedding disini. Di momen lebaran dan sepinya Jakarta, saya sama keluarga mencoba jalan-jalan ke tempat ini, karena jarang-jarang banget jalan bareng.

Saya sebelumnya pernah nyobain taman mangrove yg satu lagi yg lokasinya ga jauh yaitu Kawasan Ekowisata Mangrove Tol Sedyatmo yg ternyata bener-bener ga worth it untuk dikunjungi! Udah kotor, ga bagus pula untuk dijadikan tempat jalan-jalan dan kongkow karena bau. Buat foto2? Lebih parah lagi....

Tapi kali ini banyak yg menjanjikan "layak" untuk didatangi. Saya pun pergi dengan perasaan yg cukup senang karena udah liat2 foto2nya dan sekilas sih bagus. Sesampainya disana ternyata pengunjungnya cukup banyak agak diluar ekspektasi sihh.. Dengan dikenai HTM IDR 25,000 per orang kita sudah bisa masuk, cukup mahal sih untuk ukuran taman wisata alam, ya udah lah mungkin karena ini Jakarta sob!

Ternyata taman mangrove ini cukup bagus dan tertata rapi. Ada food court dengan kapasitas sedang untuk makan dan yg penting nih. Toilet, ya disini banyak bertebaran di area seluas 15 Ha ini. Tak jauh dari sana ada penginapan berupa cottage kayu yg bentuknya unik serta panggung yg kayaknya bisa disewain gitu. Keren sih pengen kapan gitu nyobain nginep disini :p

Nah yg kali ini yg cukup seru nih, yaitu wisata airnya. Disediakan sebuah dermaga dengan penyewaan perahu baik yg dayung maupun yg memakai mesin. Jika mau sewa perahu dayung biayanya 100,000 rupiah sedangkan pakai motor ada yg 300,000 hingga 400,000 tergantung kapasitas penumpangnya. Sekilas cukup mahal ya tapi sebenernya worth it karena kalau naik perahu dayung kita dibebaskan waktunya asal tidak melewati daerah2 yg dilarang. Sedangkan naik motor lebih cepat, ada pengemudi yg merangkap guide dan mengelilingi area mangrove ini dari ujung ke ujung. Cukup seru!





Pemandangan sunset di pantai yg penuh dengan kehijauan yg jarang ada di Jakarta

Pantai yg langsung menghadap ke pulau reklamasi


"Kandang" perahu



Cottage penginapan yg lucu dan unik
Liburan singkat yg menyenangkan, cocok buat kamu yg ingin refreshing singkat namun dekat di Jakarta. Sayang sekali ada satu kekurangan menurut saya di tempat ini yaitu dikenakannya biaya yg cukup tinggi jika kita mempergunakan kamera DSLR dan sejenisnya kecuali smartphone, meskipun bukan untuk kepentingan komersil. Petugas memang tidak memeriksa barang bawaan kita namun bila ketahuan membawa kamera tanpa membayar dendanya akan 2x lipat!

Mau tidak mau foto2 saya diatas semuanya memakai jepretan kamera smartphone, agak mengesalkan memang namun setelah dipikirkan lagi mungkin pemilik taman wisata ini "takut" tempat ini nantinya akan jadi area foto2 yg tidak teratur dan menghilangkan hakekat tempat ini sebagai tempat wisata alam.

Menjadi pelajaran juga buat para traveler yg suka membawa kamera dalam perjalanannya untuk memilih smartphone dengan spesifikasi kamera yg memumpuni karena tidak semua tempat wisata di Indonesia "ramah" terhadap kamera. So cheers! See you in next destination!
Share:

Saturday, July 9, 2016

#Jakartasepi Monumen Nasional



Lebaran selain menjadi hari raya umat muslim sedunia, selalu identik dengan pulang kampung alias mudik. Meski gatau dari mana asal kata mudik, namun tradisi ini kayaknya sudah mengakar di kehidupan masyarakat Indonesia.

Bagi warga kota-kota besar seperti Jakarta tentu mereka yang ga mudik akan mengalami sebuah fenomena luar biasa, yap yaitu jalanan kosong! Tanpa basa basi saya dan kakak saya langsung cabut ke Monas!

Lho kenapa Monas? Ya jadi dari duluuu banget memang saya ada keinginan untuk bisa masuk ke dalemnya Monumen Nasional ini, bukan di pelatarannya seperti yg selama ini saya dan orang2 lain lakukan. Cuma sekedar olah ragaan (yg sebenernya ga olah raga juga hihihi) di sekitaran monas.

Sambil menikmati Jakarta yg sepi tak "berpenghuni", mobil kami melahap aspal dengan kencang. Cukup 10 menit kurang dari Kelapa Gading ke Monas. (yg kalau hari biasa bahkan cuma bisa nyampe rawamangun) Jalanan amat lengang meskipun ada beberapa kendaraan lainnya.

Namun diluar dugaan Monas cukup ramai cari parkiran sulit setengah mati walau akhirnya dapet nyempil. Padahal pengujung monas ga rame-rame banget kaya biasanya. At least kami dapat parkir juga. 

Biarlah foto2 yg berbicara

Sepiiiii....




Ga disangka ternyata rame juga yg mau masuk Monasnya






Bule-bule yg lagi narsis2an di Monas hihihi :p

Pedagang di Lenggang Jakarta


Namun amat disayangkan kami gagal untuk masuk ke Monas dan naik sampai puncaknya dikarenakan kami kesiangan. Cukup aneh sih dengan manajemen Monas yg hanya membuka Museum sampai jam 12 siang saja dan lift menuju puncak tutup jam 11an siang. Namun katanya akan buka lagi pukul 7 malam. Oke saya berjanji akan datang dan upload secepatnya di part 2!






Share:

Friday, July 8, 2016

Jelajah Sukabumi Part 1

 
sumber : www.fotografindo.com

“Oi Den, dimana lu? Mau ikut pergi ke ujung genteng ga besok pagi? Klo mau kita jalan jam 4 langsung ye.” Begitulah kira-kira isi Line message yang saya terima dari seorang teman saya pada pukul 9 malam hari minggu kemarin. Mendengarnya saya merasa senang bercampur kaget.

Saat ini saya memang sedang ingin sekali jalan-jalan untuk merilekskan diri sehabis mengerjakan skripsi namun tidak ada yang bisa diajak jalan… Ya meskipun cukup mendadak sih H – semalam baru diajakin…

Ketika terlintas kata Ujung Genteng, pikiran saya langsung menerawang ke pantai-pantai yang ada di selatan jawa barat. Saya tahu ujung genteng namun tidak pernah sekalipun kesana, ujung genteng terletak di selatan kota Sukabumi atau sebelah timur Pelabuhan Ratu.

Biasanya sebelum pergi atau memutuskan pergi ke sebuah destinasi baru, ritual wajib seorang traveler adalah googling atau istilah kerennya research destinasi tersebut di internet. Namun khusus kali ini tidak sempat! Hahaha… saya tahu kalau di area Sukabumi sebenarnya banyak sekali obyek-obyek wisata seru banget dan memang punya keinginan untuk kesana sewaktu-waktu dan akhirnya sekarang baru terwujud… Thanks buat yang udah ngajakin!

Oke ceritanya saya percepat, jadi setelah berlelah-lelah 6 jam di jalanan naik mobil akhirnya kami sampai juga di daerah Ujung genteng pukul 11:40 esok harinya. Kami langsung dikejutkan dengan pemandangan laut yang breathtaking disana. Hamparan pasir putih halus dan air laut sejernih air mineral yang cukup hangat memberikan sambutannya pada kami.

Pemandangan di dekat tempat pelelangan ikan


Meskipun ini tempat pelelangan ikan, namun pantainya bersih banget :)


Kami segara berkeliling-keliling mencari penginapan yang ada di Ujung genteng ini untuk kita booking satu hari kedepan. Cukup sulit memang karena beberapa teman saya yang sedikit “rewel” masalah penginapan. Ujung genteng memang tergolong pantai wisata terpencil yang jarang didatengin orang banyak maka sulit mencari penginapan yg "enak", tapi disini ada beberapa cottage dan villa yg bagus dan cukup pricey kok. 

Sebenernya banyak tempat2 dan pantai bagus disini seperti pantai Ombak 7 tapi berhubung jadwal padat dan anak2 rata2 sudah pada mager jalan jauh ya akhirnya hanya eksplor yg disekitaran penginapan deh -___-

Foto-foto lainnya

Sore hari di depan Villa Hexa
Nampang dikit :p


Menyambut siang dengan es kelapa muda :)
Overall Ujung Genteng pas banget buat kamu yang butuh "escape" dari kesibukan, kemacetan, keruwetan kota. Karena disini relatif sepi dan tenang. Kami jalan pada tanggal 4 Juli 2016 kemarin alias H-2 lebaran dan sama sekali ga macet. Besoknya jalan ke Bandung juga ga macet sama sekali. Mengindikasikan bahwa jalur ini jauh dari keramaian. 

Pantainya bersih tapi infrastruktur jalannya masih kurang layak untuk mobil serta minim banget penerangan jalan, agak horor kalau mau jalan malam2.(apalagi naik motor sendiri) Yang gilanya adalah disepanjang jalan pantai Ujung genteng ada beberapa Cafe plus karaoke yang ternyata adalah tempat mangkal PSK kalau malam2 ckckck....












Share:

Wednesday, March 30, 2016

Keuntungan Transportasi Online Bagi Traveler


Di era yang semakin digital ini, penggunaan internet semakin menjadi-jadi saja. Di lini bisnis transportasi Indonesia mulai dikejutkan dengan hadirnya Go - Jek pada tahun 2011 dan mulai populer sekitar tahun 2014 di Jakarta  dan kini merambah di kota-kota lain di Indonesia. Kemudian hadir pula Uber (yang sebenarnya sudah lama masuk) dan Grab yang menjual mobil sebagai produk transportasinya.

Terlepas dari kontroversi dan kelegalannya, transportasi online (daring) ini amat dibutuhkan oleh masyarakat luas. Kemudahan akses pemesanan dan murahnya harga yang ditawarkan adalah senjata kuat yang merevolusi dunia transportasi kita, bahkan di dunia.

Namun, saya akan membahas benefit yang akan di dapat bagi kita para traveler dengan hadirnya transportasi online ini.

1. Easy Access 
Hal ini adalah keunggulan utama mereka, hanya bermodalkan akses internet kita bisa memesan transportasi secara langsung dan gak ribet. Belum lagi kita bisa tahu letak mereka melalui GPS sehingga tak perlu khawatir. Belum lagi dengan fitur lengkap untuk transfer barang seperti di Go - jek dab Grab Bike dan bahkan pesan makanan dan pijat massage!

2. Lower Price
Ini kekuatan yang kedua. Harga. Sebagai traveler biaya tranportasi adalah yang segalanya. Jika hal itu bisa dikompres semurah mungkin maka itu adalah angin surga bagi traveler. Jika para tukang ojek yang biasanya "memeras" harga cukup tinggi bagi penumpang, tidak demikian di Go -Jek dan Grab Bike. Di Uber dan Grabcar tidak begitu berbeda, jika sebelumnya kita khawatir dengan argo jika harus naik Taksi ke bandara kini kekhawatiran itu tidak diperlukan.

Ini pula yang menjadi pengalaman saya ketika traveling di Bali yang dimana disana sudah sangat banyak layanan Go - jek dan tranportasi online lainnya. Dengan dijemput langsung oleh sang driver di parkiran bandara, kita langsung menuju tempat menginap yang jaraknya lumayan jauh di Legian dengan IDR 15.000 saja.

Ingin makan namun malas keluar hotel? Tinggal pesan melalui Go - Food. Di penginapan tidak terdapat fasilitas pijat atau mahal? Ada Go - Massage! (Namun ini kemungkinan perlu persetujuan dari pihak penginapan, atau bisa kalau diam-diam hehehe)

Sayangnya, belum semua tempat wisata di Indonesia dapat dijamah oleh transportasi online ini. Namun sebagai traveler kehadiran mereka sudah cukup membantu memberikan kemudahan dan kenyamanan traveling.
Share:

Tuesday, March 1, 2016

5 Alasan Kamu Harus ke Ubud!


Pasar Seni Ubud

Ubud sekarang menjadi primadona. Sebuah desa yang (dahulunya) kecil di dekat dataran sedang Bali dan terletak di kabupaten Gianyar, kini mulai dipenuhi dan dipadati oleh turis-turis. Kok bisa? Saya pun pergi kesana untuk menjawab pertanyaan itu.

Sebelumnya refrensi mengenai Ubud amat minim, sebuah desa tradisional di Bali yang dikelilingi oleh sawah-sawah eksotis dan pernah masuk di film Eat, Pray, and Love. Pemandangannya pun hanya pernah lihat di internet dan video-video traveling yang ada.


Akhirnya setelah mencoba menetap beberapa hari disana, saya mendapatkan suatu kesimpulan. Sebenarnya hari yang saya lalui belum cukup andaikan ada kesempatan lagi, saya akan coba tinggal lebih lama di Ubud! Berikut adalah alasan mengapa kamu harus ke Ubud:

1.    Dekat dengan kesepian
Maksudnya adalah Ubud amat cocok bagi kamu yang ingin suasana yang sepi dan tenang. Bagi yang biasa tinggal di hiruk pikuk Kuta dan cukup muak karenanya amat disarankan untuk datang ke Ubud. Suasana desa Bali yang relatif tradisional akan anda temui disini, kadang kala suka diadakan upacara adat yang dapat dijadikan momen refreshing sejenak.

2.    Terasering!
Ini adalah contoh local genius yang bisa kamu temui paling banyak di Bali, terutama di daerah Ubud dan Tegalalang. Sebuah sistem reboisasi atau pengairan sawah yang memanfaatkan gaya gravitasi dari tempat yang tinggi ke tempat rendah. Selain itu, banyak pemandangan sawah yang bisa ditemui melewati jalan-jalan di kota Ubud seperti di Jalan Kajeng.



3.    Nongkrong nyaman
Bagi kalian yang ingin nongkrong, namun tidak suka suasana “urakan” dan “liar” seperti di Kuta, café – café di Ubud mungkin bisa menjadi jawabannya. Ubud ini ramai pada pagi dan sore hari, namun malam harinya jalan-jalan cenderung sepi di pusat keramaiannya, suatu hal yang langka! Saya sendiri menyaksikannya saat sedang nongkrong di sebuah coffee shop dan suasana sudah sepi pada pukul 9 malam.

Suasana sepi di pusat kota Ubud, almost no one walking at this picture
 
Another photo of the "emptyness"
4.    Free parking!
Inilah yang masih membuat saya geleng-geleng kepala. Di pusat keramaian Ubud, kita bisa parkir gratis! Sepanjang Jalan Hanoman, Monkey Forest hingga dekat Pasar Raya Ubud kita tidak dikenai tarif parkir bila memarkirkan kendaraan kita di pinggir jalan. Salut untuk dinas pariwisata dan perhubungan Ubud! Semoga semua tempat hingga di Kuta juga ya!

5.    Kuliner yang tak ada matinya
Ubud rajanya kuliner Bali, mulai dari nasi bebek goreng hingga babi goreng dengan kuah ada semua disini. Bagi penikmat pork, disini ada dua resto Babi Guling Ibu Oka yang enaknya luar biasa. Resto Nuri yang terkenal di Jakarta pun konon berasal dari Ubud dan lebih enak versi disini ketimbang di Jakarta.

 Another photo of Ubud

Pura Taman Saraswati

Pura Taman Saraswati in wider frame

Unique cafe in Jl Dewi Sita, Ubud


Somewhere in Ubud

Sebuah toko di Pasar Seni Ubud




Share:

Kamera dan Ransel

Powered by Blogger.